Kabel Koaksial

Macam-Macam Kabel Jaringan yang Digunakan dalam Internet

Diposting pada

Pada artikel sebelumnya, Carisinyal telah membabar router dan repeater yang penting dalam membangun sebuah jaringan. Khususnya jaringan WiFi yang tersambung dengan akses internet. Selain router dan repeater, ada benda yang tak kalah penting dan harus ada pada sebuah jaringan.

Benda itu adalah kabel jaringan. Fungsi utama dari kabel jaringan adalah mentransmisikan sinyal perintah atau data, sehingga suatu perangkat dapat terkoneksi dan berkomunikasi dengan perangkat lain. Dalam praktik di kedai fotokopi misalnya, belasan komputer bisa mengakses printer yang sama berkat bantuan kabel jaringan.

Kabel jaringan mengantarkan perintah dari komputer asal menuju router, kemudian diolah oleh komputer server dan dikirim menuju mesin printer. Adapun jika menengok ke belakang, aplikasi kabel jaringan memang sudah lama digunakan. Yakni sejak jaringan komputer pertama kali muncul di dunia pada 1969.

Saat itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat sedang membuat proyek yang dinamai Advanced Research Projects Agency Network (ARPANET). Di sisi lain, tren jaringan wireless (nirkabel) saat ini kian meningkat. Hal itu selaras dengan kecenderungan orang masa kini untuk membuat jaringan yang lebih ringkas dan fleksibel.

Kendati demikian, penggunaan teknologi kabel jaringan masih eksis sampai sekarang. Pasalnya, kabel punya keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki oleh gelombang radio. Keunggulan-keunggulan itu seperti, stabilitas koneksi, kecepatan transmisi, bandwith (kapasitas tumpangan paket data), dan keamanan yang lebih terjamin.

Tentu saja seiring dengan bergulirnya waktu, kabel jaringan terus mengalami perkembangan. Perkembangan demi perkembangan menghasilkan berbagai macam kabel jaringan dengan ciri yang beraneka rupa. Lantas, apa saja macamnya? Berikut Carisinyal telah merangkumnya seperti di bawah ini:

Kabel Koaksial

*sumber: https://www.dxengineering.com/parts/dxe-213u

Kabel koaksial biasanya dikenal pula dengan nama kabel sepaksi atau kabel sesumbu. Kabel ini berbentuk seperti pipa dan terdiri atas empat bagian: konduktor, isolator dalam, sabuk anyaman, dan jaket bungkus. Bagian konduktor berada di area paling dalam dari tiga bagian lainnya.

Konduktor, yang berfungsi sebagai pentransmisi sinyal elektrik, terbuat dari bahan tembaga. Di atas konduktor ada isolator dalam yang biasanya berwarna putih dan teksturnya keras. Bagian isolator dalam ini terbuat dari bahan plastik padat, seperti polietilen dan teflon (PTFE).

Kemudian di atas isolator dalam ada sabuk anyaman tembaga yang juga berfungsi sebagai isolator. Beberapa produsen ada yang menyelipkan lapisan aluminium foil di antara isolator dalam dan sabuk anyaman tembaga. Adanya selipan lapisan tersebut disebut dapat meningkatkan performa.

Selanjutnya, di sisi terluar ada jaket bungkus berwarna hitam yang teksturnya keras. Bagian jaket bungkus umumnya terbuat dari bahan PVC. Jaket bungkus berfungsi untuk melindungi kabel koaksial dari pengaruh lingkungan. Seperti sinar ultraviolet matahari, oksidasi, gigitan tikus atau terbakar secara langsung. Di ujung kabel terdapat konektor RF (Radio Frequency) untuk menyambungkan kabel dengan perangkat lain.

Beberapa jenis kabel koaksial yang beredar di pasaran di antaranya: RG-59, RG-6, dan RG-11. Ketiganya punya kemampuan penghantaran optimal dan ukuran yang berbeda-beda, seperti dijelaskan di situs Dist CCTV. Misalnya di tipe RG-11, kabel koaksial dengan diameter 10 mm ini optimal digunakan di jarak 450-600 meter.

Menurut insinyur asal Amerika Serikat, Paul J. Nahin, penggunaan kabel koaksial sudah dilakukan sejak 1858. Pernyataan itu dia kemukakan dalam buku Oliver Heaviside: The Life, Work, and Times of an Electrical Genius of the Victorian Age (2002). Namun, desain kabel koaksial baru dipatenkan oleh si pembuat, Oliver Heaviside, pada 1880.

Sementara itu, tahun 1980-an menandai maraknya penggunaan kabel koaksial untuk jaringan internet. Kabel koaksial yang digunakan kala itu adalah tipe thin ethernet dan thick ethernet. Seiring berjalannya waktu, kabel koaksial semakin ditinggalkan pemakaiannya, kecuali dalam instalasi internet broadband.

Sebab, sudah semakin jarang komputer yang disertai konektor RF. Selain itu, kabel koaksial juga rentan terhadap perubahan temperatur yang mengganggu transmisi data.

Meski begitu, kabel koaksial punya banderol yang lebih terjangkau dibandingkan dengan jenis kabel jaringan lainnya. Karena itu, kabel ini masih lazim dijumpai di televisi dengan siaran terestrial. Fungsinya sebagai penghubung antara televisi dengan antena penangkap sinyal. Instalasi kamera CCTV untuk keamanan kantor dan perumahan juga memakai kabel koaksial.

Kabel Pasangan Berpilin

Kabel Twisted Pair

Kabel pasangan berpilin atau dalam bahasa Inggrisnya twisted pair, bisa dibilang merupakan penyempurnaan dari kabel koaksial. Kabel ini bermaterikan beberapa konduktor tembaga yang dipilin atau dililit menjadi empat pasang. Alasan mengapa dililit adalah untuk meningkatkan daya hantarnya.

Jenis kabel jaringan yang satu ini merupakan penemuan dari Alexander Graham Bell pada 1881. Bell adalah seorang ilmuwan Amerika Serikat yang juga menemukan telepon. Kabel twisted pair pada mulanya merupakan solusi yang ditawarkan ketika sebuah problem muncul di Amerika Serikat pada akhir 1880-an.

Kala itu, jaringan telepon menggunakan jalur yang sama dengan telegram. Sedangkan instalasi yang digunakan menggunakan kabel tunggal. Akibatnya, sering terjadi gangguan baik untuk telepon maupun telegram. Terutama saat lalu lintas pemakaiannya sedang ramai.

Lama-kelamaan pemakaian kabel twisted pair merembet ke jaringan internet. Jika kamu pernah bermain ke warnet (warung internet), kabel yang menyambungkan satu komputer dengan komputer lain adalah kabel yang satu ini. Orang-orang pun kini familier menyebutnya dengan kabel LAN (Local Area Network) karena kabel ini terhubung dengan konektor RJ45.

Ditilik lebih jauh lagi, kabel twisted pair punya tiga jenis, yakni UTP (Unshielded Twisted Pair), FTP (Foiled Twisted Pair), dan STP (Shielded Twisted Pair). Namun, tidak ada perbedaan yang kentara dari ketiganya, kecuali pembungkusnya.

Meski begitu, perbedaan cara bungkus ini menentukan seberapa tahan kabel menangkal gangguan elektromagnetik. Makin banyak bungkusnya berarti bagus kualitas kabelnya. Tentu saja hal itu akan menyebabkan harganya semakin mahal

Di jenis UTP, kabel biasanya sudah diberi lapisan plastik sebelum dililit menjadi satu pasangan. Hanya, empat pasangan kabel langsung dibungkus dengan lapisan tebal polietilen. Sedangkan di jenis FTP, ada lapisan aluminium foil ditiap pasangan kabel sebelum empat pasangan kabel dibungkus dengan lapisan tebal polietilen.

Adapun STP mirip dengan FTP. Akan tetapi, jumlah bungkusnya bertambah satu lagi yang dipasang di bawah lapisan terluar polietilen. Di luar perbedaan cara bungkusnya, kabel twisted pair punya beberapa jenis kategori. Beberapa di antaranya adalah Cat3 (Category 3), Cat4 (Category 4), Cat5 (Category 5) dan Cat6 (Category 6).

Keempat kategori di atas punya kegunaan penampakan dan kegunaan yang berbeda-beda. Contohnya, untuk Cat5, kabel dengan kategori ini bisa mentransmisikan data hingga 100 megabit per detik. Kabel Cat5 ada yang berjenis UTP, FTP, maupun STP.

Kabel Serat Fiber

Kabel Fiber Optik

*sumber: http://www.impulstechnology.com/product/multi-core-fiber-optic-cable/

Berbeda dari dua jenis sebelumnya, kabel serat fiber (fiber optic) tidak berbahan dasar tembaga. Melainkan, silika kaca atau plastik yang sangat tipis dan halus. Karena itu, diameter setiap kabel fiber optic sangat kecil, yakni sekitar 120 mikrometer.

Perbedaan jenis bahan dengan kabel koaksial dan kabel twisted pair juga membuat kabel fiber optik punya cara lain dalam mentransmisikan data. Jika dua kabel sebelumnya menggunakan arus listrik dalam mentransmisikan data, kabel fiber optic menggunakan cahaya.

Karena itu, kabel secara teori kabel fiber optik punya kemampuan transmisi yang lebih cepat, daya jangkau yang lebih jauh, dan bandwith yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena cahaya tidak terpengaruh gangguan elektromagnetik seperti arus listrik. Karena sifat tersebut, kabel fiber optik juga sering disebut kabel non-konduktif.

Menilik bentuknya, kabel serat fiber punya dua penyusun utama. Yakni inti kabel berupa serat fiber dan lapisan kelongsong (bungkus). Dalam seutas kabel, ada yang menggunakan satu serat fiber dan beberapa serat fiber. Serat-serat itu dibungkus dengan lapisan berbahan acrylate polymer atau polymide.

Di atas bungkusan pertama, ada beberapa lapisan bungkus lagi sebelum dilapisi dengan jaket berbahan plastik. Di ujung kabel terdapat konektor yang jenisnya ada berbagai macam dibedakan berdasarkan warna (oranye, biru muda, ungu, hijau lemon, abu-abu, kuning, dan biru).

Misalnya untuk warna oranye, konektor ini cocok digunakan di segala diameter kabel dan untuk berbagai kepentingan komunikasi. Kabel serat fiber diklaim mampu mentransmisikan data secara optimal hingga 40 mil (sekitar 64,3 km) tanpa repeater.

Kecepatan transmisinya juga tinggi, hingga 10 gigabit per detik. Bandingkan dengan koneksi kabel yang kecepatannya hanya sampai 25-300 megabit per detik. Keunggulan itu harus ditebus dengan harga yang lumayan. Harga kabel fiber optik bisa 2-10 kali lipat dari kabel twisted pair. Maka dari itu, kabel fiber optik saat ini lazim digunakan untuk kepentingan umum dengan lingkup pengguna yang besar.

Demikian macam-macam kabel jaringan yang pernah ada di dunia. Semua macam kabel punya ciri, bentuk, dan keunggulan masing-masing. Semoga penjelasan di atas memberikan manfaat.